Tidak semua kejadian yang membuat kita kecewa berlalu dengan sia-sia, dibalik semua itu pasti terdapat hikmah yang membuat hidup kita bernuansa. Oleh karena itu janganlah selalu menyesali perbuatan yang dikerjakan tetapi tidak berhasil atau mengecewakan. Kejadian seperti itu pula yang pernah Aku alami.
Aku pernah berharap untuk masuk menjadi anggota pecinta alam di kampusku yaitu MAPA (Mahasiswa Pecinta Alam) GUNADARMA. Begitu besar harapan dan keinginanku, sehingga aku berusaha memenuhi semua persyaratan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Peralatan hiking/mendaki gunung yang tadinya tak punya berusaha aku penuhi dengan mengorbankan uang tabunganku. Akhirnya sebagian besar peralatan itu terpenuhi dan keanggotaan MAPA GUNADARMA sudah di depan mataku. Hanya soal waktu test masuk yang ku-tunggu, Aku tak tahu kapan itu dilaksanakan. Setiap kali melihat papan pengumuman Aku tak menemukan berita itu. Pirkirku test itu akan dilaksanakan setelah ujian semester selesai, tapi ternyata Aku keliru. Test masuk diadakan pada saat minggu tenang ujian semester. Aku kecewa dan merasa benci dengan panitiannya. Mengapa test tersebut harus diadakan sebelum ujian semester, mengapa tidak dilakukan setelah selesai semester. Walaupun ada kesempatan untuk tahun depan, tapi Aku 'nggak tertarik lagi.
Dalam kekecewaanku, Aku bertekad untuk hiking/mendaki gunung sendiri dan tak mau lagi masuk ke MAPA GUNADARMA. Walaupun begitu untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti OPSIH GEDE-PANGRANGO, BAKSOS Aku tetap mengikutinya sebagai sukarelawan. Akhirnya Aku sadar, tak apa Aku bukan anggota MAPA atau perkimpulan pecinta alam lainnya. Yang penting Aku coba menjalani kegiatannku seorang diri. Dan Aku berpikir seorang pecinta alam itu tidak harus menjadi anggota sebuah klub pecinta alam. Pecinta alam sejati adalah mereka yang mau peduli dengan lingkungannya, tidak hanya di gunung saja, tetapi dilingkungan di mana dia berada.
Semoga mereka yang menamakan dirinya pecinta alam dapat menyadari apa arti pecinta alam itu sesungguhnya.
|